Ayo Menulis Lagi

Posted 17 April 2008 by Cay Indra
Categories: Sehari-hari

Teman-teman bertanya apakah gue pensiun dari menulis blog. Tentu tidak, begitu jawaban seketika yang muncul. Gue hanya hibernasi, istirahat sebentar seperti beruang yang tidur menunggu datangnya musim panas.

Kemudian gue gelagapan ditanya kenapa harus berhibernasi, karena gue bukan beruang. Tentunya alasan cepat sajinya adalah: sibuk. Dan meresap di dalam argumentasi instan ini adalah bumbu yang sebenarnya: males. Hehehe… .

Tapi setidaknya tulisan ini adalah kedip-kedip lampu morse bahwa gue masih di sini. Sejenak setelah ini, gue akan muncul lagi dari hutan kemalasan, dan mencoret-coret lagi untuk memberi makna bagi diri sendiri :)

Bangsa Pencari Kesalahan Orang

Posted 9 Februari 2007 by Cay Indra
Categories: Suara Hati

Tadi sepulang makan siang, gue sempet ngobrol sama seorang diplomat senior Indonesia. Sambil minum secangkir kopi anget di teras kantor dan diisi obrolan sana-sini (dari saran-saran buat beli notebook sampe tragisnya banjir Jakarta), di satu titik beliau bilang:

“…Kamu tau, ada yang salah dengan sistem di pemerintahan Indonesia: negara ini mengabaikan yang berprestasi, tapi kalau salah, dihukum dan dihujat habis-habisan. Hampir di seluruh struktur sistemnya begitu: Kalo kamu bikin prestasi 9 kali, prestasi itu bisa luntur gara-gara kesalahan 1 kali. Andai kamu berinisiatif dan kamu berhasil, kamu bakal dikasih selamat, and that’s about it… tapi sekalinya gagal, that’s your fault and you bear the risk. Itu makanya daripada mengambil inisiatif, lebih baik pegawai negeri itu diem aja. Kalo diem kan setidaknya nggak mungkin buat salah, dan kita aman-aman saja, tho?”

Terlepas dari kenyataan bahwa Pak Diplomat ini adalah bagian dari sistem itu (sehingga ‘pembelaan-dirinya’ ini patut dipertanyakan), sedikit banyak pernyataan beliau ada benarnya juga. Gue perhatiin para diplomat dari Indonesia (baik staf di Kedutaan maupun peserta di beberapa kegiatan yang kebetulan gue ikuti) lebih banyak hati-hati dalam bereaksi terhadap suatu perkara, dan ini cenderung dipersepsi sebagai suatu kelambatan.

Berkebalikan dengan diplomat dari beberapa negara lain (yang kebetulan juga gue temui) yang umumnya lugas dan cekatan, sehingga terlihat sangat kompeten, para duta dari Indonesia ini justru sering terlihat ragu-ragu dan malah memilih untuk nggak ikut-ikut kalau ada suatu diskusi atau perbincangan sejenis. Kalaupun akhirnya memutuskan sesuatu, biasanya keputusannya lebih ke arah status quo alias nggak mengubah keadaan secara signifikan (a.k.a “keputusan cari aman”). Pantes aja mereka milih diem, karena ternyata risk-nya lebih besar dari reward-nya.

SBY Image Courtesy of AnswersInGenesis.Org

Apa itu akibat kultur bangsa yang lebih senang menyalahkan daripada menghargai? Mungkin. Ngeliat buteknya kopi di cangkir, gue jadi keinget contoh nyata dari banjir di Jakarta barusan. Begitu kebanjiran, semua jari buru-buru menuding dan mulut menghujat Sutiyoso. Seolah-olah lupa kalo ada berton-ton sampah yang dibuang jutaan warga secara sembarangan; seolah menutup mata pada kenyataan bahwa banyak pihak pemerintah lain yang ikut berperan (antara lain fakta bahwa dana penanganan banjir udah dipotong gila-gilaan di DPRD); dan yang paling relevan di sini, seolah-olah Sutiyoso sama sekali, blas nggak punya jasa selama bertahun belakangan ini.

Sambil nyruput kopi dan merenungi contoh-contoh lain (mahasiswa yang demo anti tirani tapi serampangan di jalan raya; rakyat yang ceplas-ceplos anti korupsi tapi mbayar calo buat bikin SIM; bangsa yang nyalah-nyalahin negara lain padahal negara sendiri masih [ke]banyak[an] bolongnya), gue semakin yakin kalo omongan Pak Diplomat itu ada benarnya. Bangsa tercintaku ini terlalu hobi menunjuk dan menelisik kesalahan orang lain. Saking hobinya, seringkali sampe lupa buat melihat kalau sebenarnya banyak hal-hal lain yang bagus dan bisa kita ambil dan pergunakan untuk membuat bangsa ini maju.

SBY Kalah Untuk Menang

Posted 2 Februari 2007 by Cay Indra
Categories: Komunikasi Publik

SBY Sang Komunikator Ulung

Ada yang baru di pidato awal tahun 2007 yang telat 30 hari Dr. Susilo Bambang Yudhoyono: ia mengaku dosa. Detik.com* mengambil sebuah judul yang kurang lebih bisa meringkas isi pidato itu: “SBY Akui Belum Berhasil dan Tak Berani Janji”.

Kenapa kok tiba-tiba SBY (nama panggung Dr. Yudhoyono) menembak dirinya sendiri? Apakah ini tanda-tanda ia sudah menyerah kalah? Atau malah ini tanda ia minta tolong ke lawan-lawan politiknya? Hmm… kalo menurut gue, ini malah bagian dari strategi komunikasi publik beliau yang canggih itu.

Al Ries, seorang jagoan strategi pemasaran, menyebut teknik ini The Law of Candor, sebuah “hukum” yang kurang lebih berbunyi: kalo elo mau mengakui kelemahan lo, orang bakal memandangnya sebagai kekuatan lo.

Sejak jaman dulu, para penjual biasanya selalu berusaha mendorong produknya buat jadi yang terbaik, terbagus, terkeren, paling laku, kecap-nomer-satu, kagak-ada-bandingannya-deh. Publik yang dicekoki beginian, lama-lama jadi defensif dan mulai berhati-hati (atau langsung nggak percaya) sama jargon-jargon orang dagang kayak gitu. Tapi bayangin kalo tau-tau ada orang jualan, yang jujur bilang kalo produknya bukan produk paling laku, tapi normal-normal aja. Kita mungkin banget bakal lebih percaya sama si penjual yang satu ini, dan lebih milih buat ngedengerin dia dibanding sama penjual kecap-nomer-satu tadi.

Kenapa?

Kalo elo ngomong sesuatu itu bagus, elo harus bisa ngebuktiin kalo sesuatu itu beneran bagus. Kalo elo gagal ngebuktiinnya, atau publik sampe ragu-ragu sama pembuktian lo, sia-sialah usaha lo. Sebaliknya, kalo elo ngaku bahwa sesuatu itu punya kekurangan, elo nggak perlu susah-susah ngebuktiin lagi. Publik biasanya bakal membuka pikirannya, menerima bahwa emang di dunia ini nggak ada yang sempurna, dan bahkan bakal menaruh simpati. Dan saat publik sedang bersimpati sama elo inilah, elo berkesempatan buat menawarkan pesan yang elo mau, dan mengambil keuntungan dari kekurangan lo tadi.

Contoh nyata: kira-kira setaun lalu, waktu SBY ngumumin bahwa pemerintah udah sukses buat ngurangin jumlah orang miskin di Indonesia, langsung banyak banget tanggapan baik dari media* maupun dari segala jenis pakar*, yang berusaha ngebantah dan ngebuktiin kalo omongan SBY itu ngawur dan merupakan kebohongan publik.

Bandingin sama yang kali ini: sejak SBY ngaku dosa melalui pidatonya 2 hari lalu, setau gue sampe hari ini belom ada tuh koran online yang memuat bantahan dari manapun.

Lalu setelah ngebuka pikiran publik dengan pengakuannya yang mengundang simpati itu, “pesan” apa yang SBY mau kasih ke publik?

Ini tanggapan SBY tentang pihak-pihak yang selalu mencari-cari kesalahan dan mengkritik kegagalan yang dia akui tadi:

“…Sebagian kritik itu logis dan dapat kami terima, sebagian lagi perlu kami berikan klarifikasi dan penjelasan karena cara melihat permasalahan berbeda, atau karena kurang mengetahui apa yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini. Namun, sulit bagi pemerintah untuk merespons kecaman yang hanya sarat dengan retorika, tanpa data dan fakta yang akurat, dan bernada ‘pokoknya’ pemerintah gagal, jelek, dan tidak ada satupun kemajuan yang dicapai… .”

Kalo lawan-lawan politik SBY denger ini, dalam hati mungkin bakal bilang: touché! (”kena dah gue!”) Jelas banget kalo kalimat di atas ditembakkan ke arah mereka, khususnya yang memang belakangan tau-tau bangkit dari kubur dan ngoceh-ngoceh tentang buruknya transportasi, tentang pelanggaran hak asasi manusia di katering haji dan perlunya pemerintah lengser karena sudah gagal.

Seperti gonjang-ganjing “pengucilan SBY” di kabinet Megawati beberapa tahun yang lalu (dan mayoritas publik akhirnya bersimpati pada SBY dan berbuntut memenangkan beliau jadi presiden), sekali lagi SBY agaknya kali ini berhasil menarik simpati publik lewat pidatonya tadi. Setali tiga uang, ini juga ngebikin omongan lawan-lawan politiknya jadi gak relevan sekaligus memposisikan kalo mereka cupu dan gak lebih kompeten dari dia.

Kalo boleh dibahasakan dengan agak nyante, SBY mungkin mau ngomong gini: “Oke dah, gue emang belom sukses. Tapi setidaknya gue masih ada usaha, kagak kayak elu pade yang omong doang… .”

Mengapa Istri Seharusnya Bekerja

Posted 29 Januari 2007 by Cay Indra
Categories: Suara Hati

Dari banyak temen gue jaman kuliah maupun SMA dulu, lumayan banyak yang udah menikah. and this brings us to another topic on myself… but anywaaaay Menariknya, sebagian dari mereka ada yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Tentunya masing-masing punya alasan sendiri.

Dengan segala hormat terhadap apapun yang sudah mereka putuskan untuk hidup mereka sendiri, gue masih percaya kalau baik suami dan istri harus tetap bekerja meskipun sudah menikah. Buat gue, istilah 100% ibu rumah tangga itu udah nggak valid. Ini antara lain karena faktor:

1. Keterbukaan wawasan dan cara berpikir
Bekerja itu, selain buat duit, juga penting buat menjaga kemampuan otak yang udah digebuk-tempa sejak kelas 1 SD sampe semester terakhir kuliah, agar bisa tetep tajem, kritis, dan logis. Kelamaan nggak kerja dan nggak ngadepin masalah-masalah baru, bisa berakibat jelek karena itu berarti nggak ada tantangan lagi buat ngasah otak ini. Akhirnya tumpullah kemampuan kritis-logis yang udah dibangun bertahun-tahun itu. Tetap bekerja adalah kunci ketajaman otak. Selain penting buat diri sendiri, kemampuan ini juga penting untuk ditularkan nanti ke anak.

2. Kemampuan berinteraksi dan sosialisasi
Manusia sangat terpengaruh dengan orang-orang di lingkungannya. Sadar nggak sadar, dengan kita bekerja setiap hari, diri kita melakukan pelatihan dan penyesuaian interaksi dan komunikasi dengan orang-orang yang kita temui di kantor. Dengan seseorang tetap bekerja, ini sangat baik buat dirinya untuk tetap belajar cara berinteraksi yang lugas dengan orang lain, termasuk (kalo dia seorang istri) ke suami dan anaknya.

3. Kemampuan buat survive dalam keadaan nggak terduga
Siapalah yang bisa ngebaca masa depan, selain Mama Loren dan Ki Joko Bodo (dan yang dua terakhir pun kebanyakan ngawurnya, hihihi…). Sekarang mungkin istri masih bisa hidup dengan ngandelin suami sebagai pencari nafkah, tapi gimana kalo terjadi apa-apa sama sang suami yang ngebuat dia nggak bisa nyari nafkah lagi? Jangan sampailah si istri kemudian harus ngutang sana sini, atau (andai suaminya meninggal) sampai harus kawin lagi bukan karena cinta tapi demi ngasih makan dia dan anaknya. Menurut gue, cara yang paling bijak buat mengantisipasi hal yang gak dipengenin kayak gini adalah dengan mengurangi ketergantungan finansial antar suami-istri, yaitu antara lain ya tadi itu, suami istri tetap bekerja dan sama-sama menghasilkan nafkah.

4. Biaya hidup
Akhirnya memang ada faktor finansial juga yang mendukung kenapa istri harus bekerja juga. Cuma tetep aja gue taruh di bagian terakhir, karena buat gue, tiga hal pertama itu lebih penting daripada sekedar duit.

Ya sekali lagi, emang ini semua terserah keputusan keluarga itu masing-masing. Gue pribadi pengen menghargai istri gue di masa depan nanti sebagai seorang individu yang utuh, yang selalu belajar dan berinteraksi dengan orang lain, sekaligus hidup sebagai dirinya sendiri. Dan menurut gue, tetap bekerja untuk mengembangkan wawasan, itu komponen penting bagi manusia yang utuh jaman sekarang.

Roda Resolusi 2007

Posted 25 Januari 2007 by Cay Indra
Categories: Sehari-hari

Pagi ini di meja kantor gue tergeletak sebuah amplop gede. Kirain permintaan foto pribadi dan tanda-tangan dari salah seorang fans.*halah* Ternyata isinya adalah sebuah kalender dari design house yang juga partner kantor gue.

Namanya juga buatan design house, desain si kalender ini bener-bener trendi buat ukuran sebuah kalender. Mengusung tema “Are You Game?” setiap lembaran bulannya dilengkapi dengan sebuah aktivitas yang oke, antara lain: panduan cara melipat origami bentuk babi (karena taun 2007 ini adalah Taun Babi); Sudoku; Kertas yang di-perforasi berbentuk potongan anggota tubuh dan bisa disambung-sambung jadi wayang; Mainan tebak kata; dua gambar untuk dicari perbedaannya; de el el.

Dan yang paling “fungsional” buat gue (gue kasih tanda ” ” karena sebenernya semuanya nggak ada yang fungsional, cuma asik aja, hihihi…), sebenernya adalah mainan di lembaran bulan Januari (seperti yang ada di foto): sebuah roda berputar yang isinya daftar hal-hal yang biasanya dipilih orang buat resolusi tahunan. Kita tinggal mengarahkan resolusi tahun ini ke panah berwarna putih (yang bentuk segitiga di bagian bawah). Hmm… ide yang bagus, secara gue juga belom nentuin resolusi gue taun ini.

Wheel of Resolution:
- Finding a new job
- Buying insurance
- Working out
- Saving money
- Stop procastinating
- Spending more time with my family
- Being nice to people
- Learning a new language
- Dating someone
- Adopting a pet
- Planning a trip
- Having a kid
- Eating sensibly
- Start upgrading myself
- Losing weight
- Stop smoking
- Buying stocks
- Changing my hairstyle

Setelah ngebaca pilihan yang ada, gue sangat menyayangkan bahwa panahnya cuma satu (jadi cuma boleh milih satu). Padahal gue butuhnya beberapa panah sekaligus, karena resolusi gue taun 2007 ini banyak… tepatnya resolusi bawaan dari taun-taun sebelumnya yang belom terpenuhi, hahaha… .

Apa yang bakal lo pilih buat resolusi taun baru lo?